BRMP Riau terima kunjungan KLH, dan JICA Bahas Teknologi AHC untuk Pengelolaan Gambut Berkelanjutan
Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Riau menerima kunjungan dari Direktorat Inventarisasi Gas Rumah Kaca dan Monitoring, Pelaporan, dan Verifikasi Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) bersama Japan International Cooperation Agency (JICA) pada Kamis, 29 Oktober 2026. Kunjungan yang berlangsung di Aula Hang Tuah BRMP Riau ini bertujuan untuk membahas rencana studi banding aplikasi teknologi AeroHydro Culture (AHC).
Kepala BRMP Riau, Dr. Agus Wahyana Anggara, S.Si., M.Si, menyambut langsung agenda tersebut dan menekankan pentingnya kolaborasi dalam pengelolaan lahan gambut yang berkelanjutan, sekaligus menyatakan kesiapan instansinya untuk berbagi informasi dan mengadopsi teknologi baru demi menjaga ekosistem gambut. Agenda kunjungan ini dilatarbelakangi oleh proyek mitigasi perubahan iklim di sektor Land Use, Land Use Change, and Forestry (LULUCF) periode 2024–2027 yang dilaksanakan oleh KLH bersama JICA.
Perwakilan KLH, Rusi Asmani, S.Hut., menjelaskan bahwa salah satu output utama dari proyek ini adalah mempromosikan ekonomi hijau melalui teknik AHC. Penerapan teknologi ini diharapkan mampu menekan emisi gas rumah kaca (GRK), mempertahankan produktivitas lahan gambut, serta mendukung keberlanjutan sektor perkebunan kelapa sawit secara selaras. Teknologi AHC sendiri menggunakan kombinasi biosistem berupa kompos dari tandan kosong kelapa sawit atau kotoran hewan, biochar dari arang sekam, serta mikroorganisme. Komponen tersebut bekerja untuk menyuplai hara dan menjaga kelembapan tanah, sehingga memungkinkan tanaman tetap tumbuh di lahan gambut basah dengan muka air tinggi melalui simbiosis akar dan mikroba, sekaligus menekan emisi karbon dan melakukan restorasi lahan.
Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi yang dipimpin oleh Dr. Muhammad Giri Wibisono, S.P., M.Si. dan dihadiri oleh jajaran fungsional BRMP Riau. Diskusi berjalan hangat dengan menggarisbawahi fakta bahwa Provinsi Riau memiliki kawasan gambut yang sangat luas, sehingga memerlukan adopsi teknologi yang tepat agar pemanfaatannya berjalan berkelanjutan. Selain pada kelapa sawit, teknologi AHC dinilai berpotensi besar untuk diterapkan pada berbagai jenis tanaman tahunan lainnya, termasuk sagu dan buah-buahan. Melalui koordinasi ini, teknologi AHC dipahami menjadi salah satu pendekatan potensial untuk mendukung pengelolaan lahan gambut yang ramah lingkungan dan berkelanjutan di Provinsi Riau.